Perjuangan UMKM Sumut Ekspor Keripik Singkong hingga Korea Selatan

Sumut94 views

VIRAL24.CO.ID – DELI SERDANG – Camilan keripik masih menjadi favorit lintas usia. Mulai dari keripik kentang, jagung, hingga singkong, produk ini terus diminati pasar, terlebih jika dikemas dengan baik dan tampil sebagai makanan ringan berkualitas. Peluang tersebut ditangkap Muhdi, pengusaha keripik singkong asal Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang kini berhasil menembus pasar ekspor.

Muhdi merupakan Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Ia merantau ke Sumatera Utara sejak era 1990-an dan sempat bekerja sebagai petugas kebersihan masjid di Medan hingga tahun 2000. Tanpa latar belakang bisnis maupun kuliner, ia mulai merintis usaha keripik singkong secara kecil-kecilan pada 2001–2003 dengan produksi sekitar lima kilogram per hari.

Usaha awal tersebut tidak berjalan mulus. Minimnya keterampilan membuat kualitas keripik tidak konsisten. “Kadang masak, kadang gosong. Tetangga sampai protes dan memberi saran supaya kalau mau dijual harus seragam, jangan ada yang merah,” kenangnya.

Pada 2007, Muhdi pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah dan melihat usaha keripik singkong yang sudah menggunakan mesin pemotong. Pengalaman itu memotivasinya untuk serius mengembangkan usaha. Ia kemudian membeli mesin pemotong singkong dan memulai produksi di Tuntungan, Kecamatan Pancurbatu, Deli Serdang.

Seiring waktu, usahanya berkembang. Sejak 2005, ia mulai merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Seluruh proses dikerjakan secara mandiri, mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran ke sekolah-sekolah. Pada 2010, produknya sempat masuk ke pasar modern seperti Indomaret, meski tidak bertahan lama karena sistem pembayaran yang dinilai memberatkan UMKM.

Peluang ekspor datang secara tak terduga pada 2015. Seorang warga Korea Selatan yang kerap membeli keripik singkong di pabriknya kemudian mengirim produk tersebut ke keluarganya di Korea. Ternyata, keripik singkong tersebut diminati pasar setempat. Ayah pembeli tersebut yang memiliki supermarket di Korea Selatan mulai memperkenalkan produk itu kepada konsumennya.

Setelah mendapat pendampingan dari komunitas UMKM Sumatera Utara, Muhdi mulai menekuni pasar ekspor secara serius. Pengiriman perdana ke Korea Selatan dilakukan melalui kantor pos sebanyak 17 kilogram. Meski ongkos kirim jauh lebih mahal dari harga barang, kerja sama terus berlanjut hingga ekspor berjalan rutin.

Pada 2019, keripik singkong produksinya mulai menembus pasar Malaysia. Awalnya melalui perusahaan pihak ketiga, namun kini Muhdi telah memiliki badan usaha sendiri dan mengekspor produknya secara mandiri dengan merek Keripik Singkong Lutvi. Untuk pasar domestik, produknya dipasarkan di supermarket, pasar modern, serta melalui toko miliknya di Pancurbatu.

Meski telah menembus pasar ekspor, tantangan besar masih dihadapi, terutama ketersediaan bahan baku. Untuk memenuhi kebutuhan ekspor, Muhdi membutuhkan sekitar 5–6 ton keripik per hari atau setara 120 ton singkong segar, sementara pasokan dari petani belum stabil.

“Selama ini singkong masih didominasi dari Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Banyak petani enggan menanam ulang karena harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi,” ujarnya.

Menurutnya, dibutuhkan lahan singkong sekitar 60 hektare untuk menopang kebutuhan produksi. Ia berharap pemerintah daerah dapat mendorong petani kembali menanam singkong, termasuk memanfaatkan lahan tidur agar pasokan bahan baku lebih terjamin dan pembelian bisa langsung dari petani tanpa perantara.

Selain bahan baku, kendala lain adalah transportasi ekspor. Antrean panjang pengapalan kontainer dinilai berpotensi mengganggu kualitas produk makanan.

Muhdi berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada pelaku UMKM yang telah naik kelas ke pasar ekspor, terutama dalam promosi produk unggulan ke luar negeri. Ia juga mendorong agar promosi dilakukan secara terfokus sesuai sektor produk.

“Kalau pameran keripik, tampilkan keripik saja. Jangan dicampur dengan produk lain seperti kopi atau tenun. Pemerintah juga seharusnya punya data pengusaha agar mudah menghubungi saat ada event,” ujarnya. (V24/Red)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *