VIRAL24.CO.ID – ASAHAN – Ribuan masyarakat umat Budha di Kabupaten Asahan, peringati Hari Raya Ceng Beng dengan kegiatan berziarah ke makam leluhur mereka. Adapun, ritual sembahyang Ceng Beng ini dilaksanakan sekitar dua bulan setelah Hari Raya Imlek dan dilakukan selama sepuluh hari atau hingga sebelum tanggal 5 April setiap tahunnya.
Khusus pada saat Ceng Beng, biasanya dimanfaatkan warga Tionghoa khususnya mereka yang dari perantauan untuk pulang kampung berziarah ke makam leluhur dan keluarga.
pantauan VIRAL24.CO.ID Kamis (30/3/2023) warga Tionghoa mulai memadati pekuburan umat Budha di Desa Hessa Pelompongan, di Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan.
“Kalau Ceng Beng, keluarga yang dari perantauan wajib pulang meskipun dia Imlek tak sempat pulang kalau Ceng Beng biasanya dipaksakan pulang untuk sempatkan sembahyang ke makam leluhur,” kata Bustami salah seorang peziarah yang dikonfirmasi.
Di atas tanah makam leluhurnya seluruh anggota keluarga biasanya berkumpul bersama di sekitar pusara. Membakar dupa, menyungguhkan sesaji buah-buahan dan merapalkan doa.
“Ini cara kami menjaga tradisi leluhur. Kalau tahun sebelumnya memang tak seramai ini karena masih COVID. Sembahyang Ceng Beng minta kepada leluhur supaya seluruh keluarga dapat keselamatan, diberi kesehatan, dapat keberkatan dan rejeki sepanjang tahun,” katanya.
Ceng Beng, dalam bahasa Hokkian, artinya terang benderang yang kemudian disimbolkan mendatangi makam leluhur dengan berziarah dengan mendoakan agar mendapat cahaya hidup bagi anggota keluarga yang masih ada.
Sementara asal mula ziarah kubur atau Ceng Beng ini telah ada dari zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M). (Kirun)






