VIRAL24.CO.ID – MEDAN – Pemberlakuan sistem pembayaran digital hasil kerja sama Perusahaan Umum Daerah (PUD) Pasar Kota Medan dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mendapat tanggapan beragam dari para pedagang. Sejumlah pedagang menilai penerapan sistem tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi pasar tradisional di tengah lesunya perekonomian masyarakat saat ini.
Pendapat tersebut disampaikan sejumlah pedagang di sela kegiatan peresmian sistem pembayaran kontribusi dan digitalisasi pasar yang digelar di Pasar Petisah, Medan, Kamis (25/6/2026).
Menurut para pedagang, sistem transaksi digital dinilai masih menyulitkan sebagian pelaku usaha kecil, terutama yang belum terbiasa menggunakan aplikasi perbankan maupun layanan pembayaran digital melalui telepon seluler.
“Kami lebih senang pembayaran kontribusi tempat berjualan dilakukan secara manual karena pedagang sudah terbiasa dengan sistem pembayaran biasa,” ujar Lubis, salah seorang pedagang Pasar Petisah.
Ia menilai tidak semua pedagang memiliki kemampuan yang sama dalam mengoperasikan aplikasi digital. Selain itu, pembayaran tunai dianggap lebih praktis dan mudah diterapkan dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.
Lubis juga menyoroti minimnya partisipasi pedagang dalam acara peluncuran tersebut. Menurutnya, mayoritas peserta yang hadir berasal dari kalangan pegawai PUD Pasar dan undangan resmi.
Ia menambahkan, program transaksi non tunai sebenarnya pernah diperkenalkan sebelumnya saat kepemimpinan direktur utama terdahulu. Namun, program tersebut tidak berjalan optimal dan akhirnya terhenti.
Sementara itu, pedagang lainnya menilai penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran memiliki sejumlah kendala, salah satunya ketergantungan pada jaringan internet.
“Kalau sinyal bermasalah atau sistem mengalami gangguan, transaksi juga ikut terganggu,” ujar seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Menurutnya, penggunaan transaksi digital lebih mudah diterapkan oleh pedagang skala menengah dan besar dibandingkan pedagang kecil di pasar tradisional.
Para pedagang berharap PUD Pasar lebih memprioritaskan pembenahan fasilitas pasar yang dinilai sudah membutuhkan renovasi. Perbaikan infrastruktur pasar diyakini dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PUD Pasar Kota Medan, Anggia Ramadhan, mengatakan digitalisasi pembayaran kontribusi merupakan bagian dari upaya modernisasi pengelolaan pasar tradisional.
“PUD Pasar terus berbenah agar pasar tradisional semakin maju. Sistem pembayaran kontribusi secara digital diharapkan dapat menciptakan transparansi, akuntabilitas, dan pengelolaan yang lebih profesional,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas atau Rico Waas menyatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola transaksi masyarakat, termasuk dalam aktivitas perdagangan.
“Masyarakat saat ini sudah mulai memasuki pasar online. Perubahan teknologi tidak bisa dibendung dan harus disikapi secara positif,” kata Rico Waas.
Menurutnya, sistem pembayaran digital akan memudahkan pengawasan terhadap penerimaan kontribusi pedagang karena seluruh transaksi tercatat secara elektronik.
“Dengan sistem ini akan terlihat siapa yang sudah membayar dan siapa yang belum. Semua transaksi terdokumentasi sehingga lebih transparan,” ujarnya.
Rico Waas menegaskan Pemerintah Kota Medan akan terus mengawal penerapan program tersebut agar berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi pedagang maupun pengelola pasar.
Selain itu, Pemko Medan juga berencana melakukan revitalisasi sejumlah pasar tradisional, termasuk membuka konsep pasar modern yang dapat menjadi ruang usaha bagi generasi muda serta mendukung pertumbuhan ekonomi kerakyatan. (Erwan)










