VIRAL24.CO.ID – MEDAN – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mendorong mahasiswa, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), untuk berani bercita-cita menjadi pemimpin masa depan. Hal itu disampaikannya dalam bedah buku “Babad Alas” karya Bima Arya di Gedung Digital Learning Center Universitas Sumatera Utara (USU), Kamis (30/4/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Bima Arya beserta istri, Rektor USU Muryanto Amin, serta ratusan mahasiswa.
Rico Waas menilai buku “Babad Alas” tidak sekadar otobiografi, tetapi juga rekam jejak kepemimpinan yang dapat menjadi rujukan bagi generasi muda. Ia berharap forum ini mampu membuka wawasan mahasiswa tentang pentingnya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat.
“Bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin baik, dan itu ada pada kalian. Negara ini ke depan ada di tangan anak muda,” ujarnya.
Sementara itu, Bima Arya menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki ideologi yang kuat sebagai fondasi dalam berpikir dan bertindak. Tanpa ideologi, menurutnya, pemimpin akan mudah goyah dan tidak konsisten dalam mengambil keputusan.
Ia menyebut pemikir seperti Soe Hok Gie, Arief Budiman, Nurcholish Madjid, dan Abdurrahman Wahid sebagai tokoh yang memengaruhi cara pandangnya tentang keberagaman, keberanian, dan integritas.
Selain ideologi, Bima Arya juga menyoroti pentingnya strategi dalam kepemimpinan. Salah satu pendekatan yang ia terapkan adalah “mencicil harapan”, yakni menghadirkan perubahan secara bertahap agar masyarakat dapat merasakan dampaknya sejak awal masa jabatan.
“Pemimpin itu agen harapan. Harapan harus dikelola dan dipenuhi secara bertahap,” katanya.
Ia menambahkan, pemimpin harus mampu mengelola berbagai kepentingan, baik dari pemerintah, aparat, maupun kelompok masyarakat. Dalam praktiknya, diperlukan batasan yang jelas untuk menjaga integritas sekaligus membedakan antara ketulusan dan kepentingan.
Menurutnya, dukungan politik juga perlu dibangun secara seimbang di tingkat akar rumput, kelas menengah, dan elit sebagai kunci keberlanjutan kepemimpinan.
Dalam mengelola birokrasi, lanjutnya, pemimpin perlu memahami karakter serta pendekatan yang tepat terhadap setiap anggota tim agar kinerja organisasi berjalan efektif.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang literasi, tetapi juga wadah refleksi bagi generasi muda dalam memahami tantangan dan nilai-nilai kepemimpinan. (Vin)






