VIRAL24.CO.ID – MEDAN – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bakal mengganggu aktivitas dan ekonomi masyarakat dalam menjalankan kegiataannya secara rutin setiap hari.
Pengamat kebijakan publik Sumut Assoc Prof. H. Yohny Anwar, MM, MH berbicara kepada VIRAL.24, Sabtu Sore (29/11/2025) menanggapi terkait kelangkaan BBM dan tutupnya sejumlah SPBU di Medan pasca peristiwa banjir besar melanda Sumatera Utara khususnya kota Medan pada 27 November 2025 lalu.
Yohny dihubungi ditengah kesibukannya selaku Sekretaris Comite (SC) persiapan Mubes ke-VIII Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) Sumut yang berlangsung dalam waktu dekat ini, menyebutkan, kelangkaan BBM tanggung jawab pemerintah dalam hal ini Pertamina dalam menjaga/ mengontrol pasokan di lokasi SPBU.
Artinya, pasca banjir besar itu, Pertamina sudah memikirkan tehnis dan pasokan BBM dipastikan tidak akan terlambat sampai SPBU dalan melayani pengisian BBM masyarakat.
Kalau bisa, melakukan tindakan tanggap darurat melakukan secara langsung operasional (OP) menggunakan mobil tangki milik pertamina memastikan BBM langsung kepada masyarakat.
“Masa iya sudah 2 hari bencana banjir jalan-masih digenangi air dan pasokan menjadi terganggu ke SPBU,” imbuh Yohny Anwar keheranan yang juga mantan Direktur Operasi BUMD Pemko Medan PUD Pasar Medan.
Kelangkaan BBM dan tutupnya sejumlah SPBU itu membuat aktivitas masyarakat menjadi terganggu belum lagi terjadinya kemacetan di sejumlah jalan besar akibat antrian yang panjang di sejumlah SPBU tersebut.
Kemacetan itu, membuat aktivitas para pengendara yang melintas ataupun yang telah mengantri berjam-jam menjadi terganggu.
Aktivitas yang rutin dilakukan masyarakat seperti mengantar dan menjemput anak sekolah, bekerja, siswa yang menaiki kenderaan, pedagang yang berjualan menggunakan kenderaan sampai gojek dan para grabb juga menjadi terganggu.
Kalau hal ini tidak cepat diselesaikan secara cepat oleh Pertamina dan dibiarkan berlarut-larut bakal berdampak dan menganggu ekonomi masyarakat.
Kita juga sangat prihatin melihat masyarakat mendorong kenderaannya karena kehabisan BBM tetapi sampai di SPBU kecewa karena tidak beroperasi karena tidak ada BBM.
“Kalau para remaja mendorong sepeda motornya sejauh 1 sampai 2 Km ke SPBU kita tidak begitu prihatin, tetapi kalau orang tua yang kena begitu kan sangat kasihan,” lanjut Yohny yang juga Ketua Umum Paguyuban Pasundan Sumut Sembari menambahkan masyarakat menuju SPBU karena alternatif kios pengecer di tepi jalan juga sudah kosong.
Pihak Pertamina harus tetap berempati dan menjaga pasokan BBM ke SPBU dan telah memikirkan strategi agar pasokan tetap terjaga walaupun dalam situasi apapun.
Menjawab pertanyaan tentang kemungkinan spekulasi pemerintah akan menaikkan harga BBM kepada masyarakat ditengah situasi ekonomi masyarakat dalam keadaan tidak baik-baik ini, Yohny menyebutkan, belum terlihat tanda ke arah itu.
Tetapi, kalau kelangkaan BBM terus terjadi sampai belasan hari dan masih banyak SPBU yang tutup, ini perlu dipertanyakan.
Pemerintah dalam situasi saat ini, lanjutnya lagi, diharapkan tidak melakukan kenaikan harga BBM atau listrik dan pelayanan PDAM Tirtanadi yang ketiga pelayanan ini sangat urgen di masyarakat. (Erwan)






