VIRAL24.CO.ID – MEDAN – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 4,98 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut menunjukkan perekonomian Sumut tetap tumbuh positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Asim Saputra mengatakan kondisi tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi daerah meskipun dunia masih diwarnai berbagai gejolak, termasuk konflik yang terjadi di Timur Tengah.
“Ini menunjukkan bahwa ekonomi Sumut tetap resilien di situasi sekarang, yang berkecamuk perang global terutama di Timur Tengah,” ujar Asim pada konferensi pers yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sumut di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Selasa (9/6).
Menurut Asim, struktur ekonomi Sumut yang didominasi sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan. Selain itu, ekspor Sumut yang banyak ditujukan ke Amerika Serikat dan Tiongkok, terutama untuk komoditas lemak serta minyak hewani dan nabati, turut berkontribusi terhadap kinerja ekonomi daerah.
Ia menjelaskan, gejolak global memang berdampak terhadap aktivitas ekspor. Namun, kenaikan harga crude palm oil (CPO) di pasar internasional serta pelemahan nilai tukar rupiah justru memberikan keuntungan bagi eksportir.
“Di satu sisi pelemahan rupiah juga menguntungkan para pelaku ekspor di Sumut. Jadi pertumbuhan ekonomi kita masih cukup bagus dan resilien,” katanya.
Asim menambahkan, lebih dari 51 persen pertumbuhan ekonomi Sumut ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat masih relatif kuat.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus membeli dan menggunakan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna memperkuat perekonomian daerah.
Selain ditopang konsumsi masyarakat, pertumbuhan ekonomi Sumut juga didukung oleh berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional yang digelar di daerah ini. Beberapa di antaranya Piala AFF U-19 2026, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Trail of The King by UTM 2026, Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), serta sejumlah agenda lainnya.
“Banyaknya tamu yang datang akan membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut Poppy Marulita Hutagalung mengatakan inflasi Sumut pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,35 persen (yoy), meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada pada level 2,92 persen.
Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan sebesar 0,57 persen, tomat 0,29 persen, beras 0,24 persen, cabai merah 0,18 persen, dan ikan dencis 0,16 persen.
“Ini menjadi catatan kita bersama. Dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 5,35 persen dan terendah di Kabupaten Karo sebesar 3,98 persen,” kata Poppy.
Untuk mengendalikan inflasi, Pemerintah Provinsi Sumut telah menerapkan roadmap pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Selain itu, Pemprov Sumut juga menjalin kerja sama antardaerah untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas pangan, termasuk cabai merah.
“Kita juga telah melakukan kerja sama untuk komoditas cabai merah dengan Kabupaten Karo. Namun, kerja sama tersebut tidak hanya terbatas pada komoditas cabai merah,” pungkasnya. (V24/RT)






