VIRAL24.CO.ID – SIBOLGA – Fenomena penjarahan yang terjadi di Sibolga dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, setelah bencana alam memicu perhatian luas. Namun menurut sejumlah ahli, tindakan tersebut tidak semata persoalan hukum, melainkan lahir dari tekanan ekonomi, psikologis, serta memburuknya hubungan masyarakat dengan otoritas.
Pengamat sosial Universitas Sumatera Utara (USU), Agus Suriadi, mengatakan perilaku kolektif itu muncul ketika kebutuhan dasar warga tidak terpenuhi, sementara bantuan yang dijanjikan tidak segera tiba. Situasi darurat diperburuk dengan akses logistik yang terputus dan informasi distribusi bantuan yang dinilai tidak jelas.
“Warga berharap bantuan cepat. Ketika harapan itu gagal dipenuhi, muncul frustrasi yang bisa mendorong tindakan ekstrem,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Sabtu (29/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa banyak keluarga sudah berada dalam kondisi ekonomi sulit sebelum bencana terjadi. Tekanan hidup tersebut menjadikan kebutuhan pokok dipandang sebagai sesuatu yang tidak bisa ditunda, sehingga memicu tindakan spontan demi bertahan hidup.
Menurut Agus, solidaritas masyarakat biasanya menguat pada masa krisis. Namun tanpa dukungan pemerintah yang memadai, solidaritas itu dapat berubah menjadi aksi kolektif negatif. “Warga merasa harus bertindak sendiri demi memenuhi kebutuhan kelompoknya,” katanya.
Dalam analisanya, penjarahan di Sibolga juga berkaitan dengan merosotnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dalam penanganan bencana. Keterlambatan distribusi bantuan memperlebar jarak psikologis antara masyarakat dan institusi negara, sehingga aksi penjarahan tidak lagi sekadar mencari barang, melainkan menjadi bentuk protes sosial.
Agus menilai situasi tersebut harus menjadi peringatan agar sistem penanganan bencana diperbaiki. Pemulihan, kata dia, tidak cukup dengan menyediakan logistik, tetapi juga harus memulihkan kembali kepercayaan publik terhadap negara. “Akar masalahnya harus dipahami, supaya respons bencana ke depan benar-benar lebih cepat dan tepat sasaran,” tuturnya. (V24/Red)






