VIRAL24.CO.ID – MEDAN – Sumatera Utara kembali mencatatkan inflasi tertinggi secara nasional pada Oktober 2025, yakni sebesar 4,97 persen (y/y). Meskipun menurun dari bulan sebelumnya yang mencapai 5,32 persen, angka tersebut tetap menjadi yang tertinggi di Indonesia.
Pengamat Anggaran Pemerintah, Elfenda Ananda, menilai tingginya inflasi tersebut menunjukkan kegagalan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dalam mengendalikan inflasi di daerahnya.
Salah satu kebijakan yang dinilai tidak efektif adalah langkah Pemprov Sumut melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang membeli lebih dari 50 ton cabai merah dari Jember, Jawa Timur, untuk menekan harga pangan.
“Secara objektif, iya. Gubernur Bobby Nasution dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) gagal,” ujar Elfenda kepada wartawan, Rabu (5/11/2025), menanggapi masih tingginya inflasi Sumut pada Oktober.
Menurutnya, tingkat inflasi tertinggi tersebut mencerminkan kebijakan politik anggaran yang kurang tepat. Ia menyoroti pemangkasan belanja fungsi ekonomi dari 13,65 persen menjadi 8,85 persen pada P-APBD 2025 serta lemahnya koordinasi dan efektivitas kebijakan pengendalian inflasi daerah.
Elfenda menilai Pemprov Sumut terkesan terburu-buru dan tidak matang dalam merancang strategi pengendalian inflasi, termasuk keputusan membeli cabai merah dari Jember yang kualitasnya dinilai buruk.
“Sebagian besar cabai yang datang dilaporkan rusak atau tidak layak konsumsi, sehingga gagal menambah pasokan di pasar secara nyata,” ujarnya.
Dari sisi teknis distribusi, Elfenda menjelaskan bahwa pengiriman dilakukan tanpa perencanaan matang dan tanpa koordinasi dengan kelompok pedagang. Akibatnya, pasokan datang terlambat ketika harga sudah terlanjur tinggi, sementara jalur distribusi lokal belum siap menyalurkan secara merata.
“Kebijakan ini bersifat jangka pendek dan simbolis. Intervensi hanya pada satu komoditas dengan volume kecil dibandingkan total kebutuhan konsumsi cabai di Sumut yang mencapai ratusan ton per minggu,” tambahnya.
Ia menyimpulkan bahwa kebijakan pembelian cabai merah tersebut lebih reaktif daripada strategis, sehingga tidak cukup menahan laju inflasi bahan pangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, tren inflasi tinggi di provinsi tersebut masih berlanjut hingga Oktober 2025. Inflasi tercatat sebesar 4,97 persen (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,89.
Meski menurun 0,35 persen dibandingkan September, inflasi Sumut tetap yang tertinggi di Indonesia.
BPS mencatat, penyumbang utama inflasi Sumut adalah kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas utama seperti cabai merah, emas perhiasan, ikan dencis, beras, bawang merah, ikan tongkol, daging ayam ras, wortel, dan kelapa.
Sementara itu, dari sisi month-to-month (m-to-m), Sumut mengalami deflasi sebesar 0,20 persen. Komoditas penyumbang deflasi antara lain bawang merah, cabai rawit, beras, cabai hijau, kacang panjang, kubis, sawi putih, daging ayam ras, buncis, sawi hijau, dan ikan lele.
BPS juga melaporkan bahwa seluruh kabupaten/kota di Sumut mengalami inflasi tahunan (yoy). Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Deli Serdang sebesar 6,24 persen dengan IHK 111,50, sedangkan terendah di Kota Medan sebesar 4,28 persen dengan IHK 109,91.
Menanggapi hal itu, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, menyatakan bahwa sejumlah intervensi Pemprov bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Satgas Pangan, serta pemerintah kabupaten/kota mulai menunjukkan hasil positif.
Menurutnya, penyaluran cabai merah dari Jawa melalui BUMD dinilai cukup efektif menekan harga cabai di pasaran. Inflasi Sumut pada Oktober 2025 (yoy) tercatat turun menjadi 4,97 persen dari sebelumnya 5,32 persen, ujar Poppy saat konferensi pers di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (5/11/2025).
Poppy menjelaskan, intervensi pasar tersebut merupakan bagian dari Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditi Pertanian (Jaskop) — salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Gubernur Bobby Nasution. Program ini, katanya, menjadi wujud komitmen pemerintah daerah menjaga stabilitas harga pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Komoditas penyumbang inflasi masih didominasi cabai merah dan emas perhiasan, ungkap Poppy.
Ia menegaskan, Pemprov Sumut berkomitmen menjaga stabilitas inflasi hingga akhir tahun dengan menerapkan strategi 4K, yaitu Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Keterjangkauan Harga, dan Komunikasi Efektif.
Menurutnya, penguatan produksi dan pengelolaan stok dilakukan untuk menjamin pasokan, terutama komoditas pangan strategis, melalui bantuan sarana dan prasarana pertanian serta peningkatan akses pembiayaan bagi petani.
“Untuk kelancaran distribusi, Pemprov Sumut juga melakukan kerja sama antar daerah (KAD). Sementara keterjangkauan harga dijaga melalui operasi pasar murah, sidak pasar dan distributor, serta optimalisasi penyaluran beras SPHP,” jelasnya. (V24/RT)










